Nama : Anry Krismanto Nababan
N.I.M : 072240
M. Kuliah : Teologi Pastoral I
Dosen : Pdt. A. V Pangaribuan, M.Si

PENGANTAR KONSELING DAN PSIKOTERAPI
( Andi Mappire AT)

Bab I PENGANTAR KE PEMAHAMAN KONSELING
Konseling kadang disebut penyuluhan, adalah bentuk bantuan. Ia merupakan proses pelayanan yang melibatkan kemampuan professional pada pemberi layanan. Ia sekurangnya melibatkan pula orang kedua, penerima layanan, yaitu orang yang sebelumnya merasa ataupun nyata-nyata tidak dapat berbuat banyak dan setelah mendapat layanan menjadi dapt melakukan sesuatu.

1.KONSELING SEBAGAI HELPING
Pemberi bantuan disebut helping. Menurut McCully ( 1965), suatu profesi helping dimaknakan sebagai adanya seseorang, didasarkan pengetahuan khasnya, menerapkan suatu teknik intelektual dalam suatu pertemuan khusus ( exitentia affairs) dengan orang lain dengan maksud agar orang lain tadi memungkinkan lebih efektif dengan maksud agar orang lin tadi memungkinkn lebih efektif menghadp dilemma-dilema, pertentangan, yang merupakan cirri khas kondisi manusia.
Suatu hubungan helping ditandai oleh cirri-ciri dasar tertentu. Pandngan Bruce Shertzer dan Shally C. Stone 9 1974), yang diadaptasikan disini, mengenai cirri-ciri hubungan helping, adalah;
1. Hubungan helping adalah penuh makna, bermamfaat.
2. Afeksi sangat mencolok dalam hubungan hlping
3. Keutuhan pribadi tampil atau terjadi dalam hubungan helping.
4. Hubungan helping terbentuk melalui kesepakatan bersama individu-individu yang terlibat.
5. Saling hubungan terjalin karena individu yang hendak dibantu membutuhkan informasi, pelajaran, advis, bantuan, pemhaman dan perawatan kepada orang lain.
6. Hubungan helping dilangsungkn melalui komunikasi dan interaksi
7. Stuktur hubungan helping adalah jelas atu gambling
8. Upaya-upaya yang bersifat kerja sama ( colobortive) menandai hubungan helping.
9. Orang-orang dalam helping dapat dengan mudah ditemui atau didekati dan terjmin ajeg sebagai pribadi
10. perubahn merupakan tujuan hubungan helping.

Lawrence m. Brammer ( 19850 tentang kemungkinan merek mampu memerankan profesi helping. Brammer mengungkapkan bahwa banyk orang mempunyai daya mampu alamiah, natural untuk membantu dengan baik karena pengalaman hidupnya yang menguntungkan.

2.KONSELING SEBAGAI ILMU DAN SENI
Konseling mmpunyai sisi ilmu dn seni sekaligus. Lawrence m. Brammer 9 1985) melihat sisi ilmu helping, termasuk konseling,adalah keterlibatn penelitian dn teori terini di dalamnya.
John Pietrofesa, dkk menjelaskan koseling adalah ilmu dalam arti bahwa banyak hal diketahui mengenai perbedaan antara konseling efektif dengan yang tidk efektif. Penelitin menegaskan cirri-ciri khusus par konselor yang baik dan yang jelk. Terdapat tipe khusus tingkah laku yang dapt ditempuh oleh par konselor untuk membantu pertumbuhn klien. Dengan kata lain, semua itu diketahui melalui proses keilmuan. Dua sisi ilmu pada konseling.
Sisi artistic helping/ konseling menurut Brammer, lebih mengacu pada unsure-unsur intuitif dan perasaan jalinan hubungan antarpribadi yang berlandaskan terutama pada kemanusiaan dan daya seni. Para helper nonprofessional, menurutnya, meskipun kurng cnggih latar belakang ilmu tingakh laku yang dimilikinya dan sedikit ltihan keterampiln, kerapkli dapt mnerapkan prinsip-prinsip helping berdasrkan institusi, penghayatan dan seni mereka.
Konseling yang utuh mestilah memiliki dua sisi sekaligus yaitu sisi ilmu ( science dan sisi seni ( art).

3.KONSELING DAN HIGIOLOGI
Higiologi secar harfiah dapat dikatakan sama dengan ilmu kesehatan mental. S. Naraya Rao 9 1980) mendefinisikan higiologi sebagai masalah-masalah normal dan pencegahan terhadap terjadinya kesukarn-kesukaran emosional yang serius.

4. KETERANGAN BEBERAPA ISTILAH POKOK
Konseling menunjukan pada bantuan khusus penanganan konseren norml lebih bersifat psikis, sedangkan helping menunjuk pada bantun lebih luas mencakup pencegahan dn penyembuhan fisik dan psikis ataupun bantuan hukum dn kadang-kadang dapat dipertukarpakaikan; bergantung pada keperluan dan kontek.
Interviu didefinisikan metode pengumpuln data dn menjadi kekhasan cirri pengumpulan keterangan pada suatu jawatan kesejahteraan, badan tenagakerjaan, atau layanan penempatn, ataupun pada konseling karir.
Konseling merupakan suatu proses intensif berkenaan dengan membantu orng-ornag normal mencapai tujuan-tujuannya atu berfungsi lebih efektif.
Psikoterapi adalh suatu proses berjangka-panjang berkenaan dengan rekonstruksi pribadi dan pengubahan besar dalam struktur kepribadian.

II.Bab Konseling : Hakikat dan Perkembangan
Latar belakang konseling muncul karena danya sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab individu dn untuk itu perlu bantuan professional. Jika dilihat eksistensinya, konseling merupakan saalah satu bantuan professional yang sejajar dengan, misalnya, psikiatris, psikoterapi, kedokteran, dan penyuluhan social.
Dilihat kedudukannya dalam roses keseluruhan bimbingan , guidance, konseling merupakan integral, atau teknik andaln, bimbingan dan disini orng lazim menggabungkannya menjadi “ Bimbingan dan Konseling’.

I. Latar Belakang : Mengapa Konseling?
Konseling sebagai ilmu suatu upaya professional memang dimulai di negri luar ketika 1896- apsychological counseling clinic was established by lightner Witmer at Universiy of Pennsylvania.
Faktor-faktor pendorong prkembangan konseling sekolah secara umum di Indonesia, semakin maju cukup pesat, adalah
1. Pada diri individu yaitu adanya masa-masa kritis dalam setip masa perkembngn individu, terutama masa remaja
2. Pad kondisi luar negri individual seperti kondisi teknologi yang berkembang pesat

Konseling akan sangat diperlukn karena factor-fktor seperti kepesatan industrialisasi, peningkatan pengetahuan, ledakan pendeduk, urbanisasi, pergolakan ekonomi, inovasi-inovasi teknologi, ketidakseimbangn ekologi, kompetisi berlebihan, birokrasi impersonal, pertambahan pesat konsumsi sumber-sumber daya, ketakutan akn datangnya bencana alam, dn sebagainya.
Faktor-faktor pendorong lin perkembangan konseling, khuss konseling seklh, adalah adanya kebutuhan nyata dn kebutuhan potensial para sisw pada beberpa jenjang pendidikan, yaitu :1. Dalam menghadapi masa krisis yang dapat terjadi, 2. Dalam menghadapi kesulitan dan kemungkinan kesulitan pemahaman diri dari lingkungan untuk arah diri dan pengambilan keputusan dalam karir, 3. Dalam mencegah sedapat mungkin kesulitan sedapat mungkin kesulitn yang dapat dihadapi dalam pergaulan, 4. menopng kelancaran perkembangan individual siswa.

2. Apakah konseling itu?
Konseling yang sering disebut “ penyuluhan”, dalam perkembangannya di Indonesia sudah tidak terlalu sering diperdebatkn makna konseptul dn teoritis.

Konseling menurut pemahaman pakar yng diajukn para pakar
a. Sherzer dan Stone ( 19740)
Proses ( sejumlah fenomena yng menunjukn perubhn terus menerus sepanjang waktu) menegaskan bahwa konseling bukanlah suatu kejadian tunggal melainkan tindakan-tindakan beruntun dan berlngsung maju- berkelanjutan kearah suatu tujuan

b. C.H Patterson ( 1967)
Konseling berurusan dengan upaya mempengaruhi perubahan tingkah laku secara sadar pada pihak kilen.
Tujuan konseling adalah mendapatkan kondisi-kondisi yang memudahkan perubahan secara sadar

c. C Pietrofesa
Konseling adalah suatu layanan professional yang disediakan oleo konselor berwenang. Konseling tidak dapat dibatasi secara tegas karena ia merupakan sesuatu yang dinamis , namun ada keterampilan yang lazim dipakai bagi hubungan bantuan seperti itu.
d.Pietrofesa, Leonard dan Hoose ( 1978)
Akhirnya, hamper setiap orang dapat menyusun sendiri rumusan definidi konseling dengan tepat jika berghasil memahami, menguasai dengan baik ciri-ciri khas konseling dan mengisolasi upaya-upaya yang serupa dengan konseling namun bukan konseling.

3. Konseling Dan Psikoterapi: Persamaan Dan Perbedaannya
Persamaan antara konseling dan Psikoterapi, pada dasarnya, tujuan-tujuan konseling dan psikoterapi adalah sama yaitu eksplorasi diri , pemahaman diri dan perubahan tindakan atau perilaku.
Perbedaannya, kalau psikoterapi menunjukan pada suatu yang jelas yaitu suatu bentuk terapi psikologis dan pada penyembuhan-penyembuhan .Konseling lebih berfokus pada konseren, ikhwal, masalah, pengembangan pendidikan pencegahan.

4. Tipe-Tipe Konseling
Dalam konteks ini akan muncul tipe-tipe konseling kritis, fasilatif, preventif atau developmental.
a. Konseling Krisis
Krisis dapat diartikan sebagai suatu keadaan disorganisasi dimana helpi menghadapi frustasu dalam upaya mencapai tujuan penting hidupnya atau mengalami gangguan dalam perjalanan hidup dan hal itu ditanggapinya dengan stes.
Berdasarkan sifat situasi krisis, konseling perlu menerima situasi dan menciptakan keseimbangan pribadi dan pengusaan diri.

b. Konseling Fasilitatif
Konseling fasilitatif, menurut segi tinjau bahasan ini adalah proses membantu klien menjadi kan lebih jelas permasalahannya, selanjutnya bantuan dalam pemahaman dan penerimaan diri, penemuan rencana tindakan dalam mengatasi masalah; dan akhirnya, melaksanakan semua atas tanggung jawab sendiri.
Masalah-masalah yang ditangani dengan konseling fasilitatif dengan konseling fasilitatif meliputi masalah memilih jurusan atau mata pelajaran pilihan perencanaan karir , pergaulan dengan anggota keluarga , masalah menganggur dll.

c. Konseling Preventif
Dalam hal ini bersifat progmatis sebagaimana program pendidikan seks disekolah dasar demi dengan niat mencegah kemasan pada masa yang akan datang mengenai seksualitas dan hubungan antara dua jenis kelamin.
Carkhuff dan Friel ( 1974) berfokus pada kesadaran diri dalam pemilihan karir dan persiapan karir untuk masa akan datang.
Dalam konseling preventif, konselor menyediakan informasi kepada suatu kelompok atau membantu individu-individu mengarah ke program-program relevan baginya.

d. Konseling Development
Konseling ini merupakan suatu proses berkelanjutan yang dijalankan dalam seluruh jangka invidu dan memfokuskan pertumbuhan pribadi yang positif dalam pelbagai tahap kehidupan mereka.
Pada konseling developmental, sebagaimana pada tipe-tipe lain seorang individual. Pada koseling ini, konselor dapat bekerja sama dengan orang-orang lain lain yang berarti yang sama-sama melibat berganti dalam hubungan konseling

5.Perkembangan Konseling : Nama Dan Peristiwa Penting
1941- Army General Clasification Test perkembangan
1971- Selaku komorisi US office of Education, Sidney Marland mengajukan konsep pendidikan karir dan diikuti keterlibatan dalam menunjakan perkembangan dan perencanaan karir

Bab III
Konseling : Ekspektasi dan Tujuan
“ Ekspektajsi yang term aslinya expectation dalam konseling, mengandung arti lebih dari satu bergantung konsepsi masing-masing peneliti.
I. Ekspektasi Nojn Klien
Ekspektasi-ekspetasi non klien terhadap konseling adalah sangat beragam, sering kontardiksi dan kadang-kadang mustahil.Kesemuanya bersumber dari kebutuhan dan keinginan.
a. Ekspektasi Para Siswa
Penelitian Van Riper ( 1971) menemukan bahwa para siswa setaraf SMTP mengganggap konselor membatu para siswa dalam perencanaan pendidikan dan sedikit banyak juga dalam masalah lain yang dihadapi para siswa disekolah.

b. Ekspektasi Guru
Atas survey yang dilakukan terhadap 208 guru sekolah menengah pertama di 18 sekolah, Gibson menyimpulkan bahwa guru tidak memahami konseling dan bahwa banyak yang nada-nadanya memandang konseling sebagai proses penuturan atau pengarahann.
c. Ekspetasi Kepala Sekolah
Hart dan Prince ( 1970) dalam penelitiannya merumuskan seperangkat pernyataan mengenai peranan konselor dengan persepsi kepala sekolah. Melalui analisis pelbagai penelitian, Shertzen dan Stone ( 1974) memperoleh empat kesan tentang ekspetasi para kepala sekolah terhadap konseling, sebagai sadur berikut:
1. Para kepala sekolah berasumsi bahwa konseling hendaknya dapat membuat efisien organisasi sekolah.
2. Para kepala sekolah mengganggap konseling terutama sebagai pemberian nasihat pendidikan dan jabatan
3. Para kepala sekolah mengharap sedikit saja, atau menghaap apa-apa dari konseling.
4. Para kepala sekolah mengharapkan konseling dpat memecahkan setiap kesulitan pendidikan dan meremidi setiap penyakit atau kesulitan sosial siswa baik yang real maupun yang mungkin timbul.

d. Ekspetasi Orang tua
Dunlop ( 1965) menemukan bahwa semua kelompok subjek penelitian mempunyai sikap positif terhadap konseling yang mengurusi perencanaan pendidikan dan jabatan siswa
Pietrofesa, Leonard, dan Hoose ( 1978) mengungkapkan pula bahwa survey-surveilain menyiratkan bahwa para orang tua dan guru mengharapkan konselor membantu siswa-siswa memilih suatu perguruan tinggi menemukan suatu pekerjaan dan meningkatkan prestasi sekolah para siswa.

2. Ekspektasi Klien
Mayoritas klien, menurut Shertzer dan Stone ( 1974) mengganggap konseling akan menghasilkan pemecahana masalah pribadi mereka. Para klien yang diliputi rasa tertekan mengganggap konseling dapat memberikanya rasa lega, bebas dari tertekan,.
Sharp dan Marra ( 1971) menemukan setelah lewat sewindu proporsi klien yang digolongkan menurut lingkup masalahnya adalah berubah signifikan.

3. Tujuan Klien Dan Tujuan Konselor
a. Tujuan Klien
Tujuan-tujuan klien yang datang menemui konselor bersumber dari ekspektasi klien mengenai masalah mendesak yang sedang dirisaukan klien.
Bagian eksensial proses konseling adalah membantu para klien menegaskan dan mengkhususkantujuan-tujuan yang hendak diperoleh para klien sebagai suatu hasil pertalian klien dan konselor.
Tujuan-tujuan akhir konselor seperti membuat klien punya aktualisasi diri penerimaan diri dan pemahaman diri menurut Pietrofesa, Leonard dan Hoose ( 1978), berguna dalam hal bahwa tujuan-tujuan itu menyediakan suatu konsep dan kerangka acuan bagi konselor.
Pietrofesa, dkk ( 1978 ) menegaskan bahwa tujuan-tujuan khusus dalam konseling adalah unik bagi tiap klien dan bersangkutan dengan pelbagai faktor.

4. Tujuan Konseling: Ragam Statemen Tujuan

Adapun tujuan konseling yang sering dipakai oleo beberapa pakar, dikemukan oleo Shertzer dan Stone ( 1974) yang disadur dalam singkat: Perubahan tingkah laku, kesehatan mental positif, pemcahan masalah, keefektifan pribadi dan pembuatan keputusan. Penyajiannya berikut ini dimulai dengan yang berkecenderung afektif, lalu lebih kognitif, dan terakhir yang behavioristik.

5.Tujuan-Tujuan Konseling : Penyataan-Penyataan Tujuan dalam Konseling

Stewart, dkk ( 1978) menyatakan bahwa tugas awal konselor adalah membantu klien mengenali, mengidentifikasi, tujuan-tujuan yang akan mengarahkan aktifitas belajar klien.
Tujuan-tujuan yang merupakan target menspesifikan arah dan memberi kepastian kapan selesai, tujuan-tujuan adalah motivasi untuk memberi dorongan dan pencapaian tujuan memberikan ganjaran bahwa pengetahuan akan hasil memberi rasa senang dan mendorong berbuat lagi dan tujuan-tujuan menyediakan perubahan berencana memberi jalan untuk mempertimbangkan perubahan yang hendak dilakukan.

a.Prinsip-prinsip dasar pendayagunaan Tujuan
Pernyatan sangat bermakna diungkapkan terhadap criteria Krumboltz diatas, sekurangnya adalah, 1. Apakah upaya konselor sehingga dapat menyatakan tujuan konseling secara berlainan bagi setiap individu klien. 2. Bagaimana konselor memadukan dan dalm arti tidak mesti, antara tujuan klien dengan tujuan konselornya? 3. Apa yang harus diperbuat konselor terhadap tujuan-tujuan konseling yang hendak dicapai oleo setiap klien sehingga tujuan-tujuan itu dapat diamati?

b. Prinsip-Prinsip Praktis Pendaygunaan Tujuan
1) Tujuan-tujuan konseling dirumuskan dalam kategori tujuan akhir, tujuan prose dan tujuan sesaat atau tujuan umum, tujuan sementara dan tujuan khusus.
2) Tujuan-tujuan konseling ditemukan bersama oleo klien dan konselor dalam hubungan konseling.
3) Pertimbangan utama dalam pembuatan rumusan tujuan-tujuan konseling adalah bahwa rumusan tujuan khusus yang dibuat merupakan keputusan yang paling selamat bagi klien, dan bukanya apa yang dinyatakan klien untuk diperbuat.
4)Rumusan tujuan konseling bersifat fleksibel baik pada segi isi suatu tujuan maupun pada segi struktur dari seperangkat tujuan.
5) Rangkaian rumusan tujuan konseling hendaknya dirancang sehingga konselor dapat mengantisipasi metode dan teknik penilaian atas pencapaiannya.

Bab IV
Aspek Psikologi dalam Konseling : Perkembangan dan Masalah Klien
1.Ikhwal Perkembangan individual Klien
a. Prinsip-Prinsip Perkembangan
1. Pertumbuhan mempunyai pola tertentu
2. Pertumbuhan mempunyai urut-urutan
3. Kecepatan perkembangan bervariasi
4. Pola-pola perkembangan menunjukan adanya perbedaan individual yang sangat besar
5. Perkembangan merupakan hasil interaksi antaraorganisme dengan lingkungannya
6. Tubuh cenderung membangun suatu tatanan keseimbangan yang disebut homeostasis
7. Kesiapan harus mempersyatrati jenis-jenis belajar tertentu

b. Tahap-tahap dan Tugas-tugas Perkembangan
c. Unsur-unsur Sama dalam perkembangan
1. Pertumbuhan dan perkembangan individu adalah kontiniu
2. Pertumbuhan individu dapat dibagi dalam periode atau tahapan kehidupan guna maksud-maksud deskriptif
3. Individu-individu dalam setiap tahap kehidupan dapat ditandai dengan ciri-ciri umum
4. sebagian besar individu dalam budaya tempat mereka hidup menjalani tahapan perkembangan yang sama
5. Masyarakat memiliki tuntunan-tuntunan tertentu terhadap individu-individu anggotanya
6. Tuntutan itu relatif seragam bagi semua anggota
7. Tuntutan itu berlainan dari tahap ke tahap sesuai dengan perjalanan individu sepanjang proses perkembangannya
8.Krisis perkembangan terjadi manakala individu menghadapi tuntutan untuk mengganti tingkah laku yang ada sekarang dan menguasai yang baru

1.Pertumbuhan memmpunyai pola tertentu
2. Pertumbuhan mempunyai urut-urutan
3.Kecepatan perkembangan bervariasi
4. Pola-pola perkembangan menunjukan adanya perbedaan individu yang sangat besar
5. Perkembangan merupakan hasil interaksi antara organisme dengan lingkungannya.
6. Tubuh cenderung membangun suatu tatanan keseimbangan yang disebut homeostasis
7. Kesiapan harus mempersyarati jenis-jenis belajar tertentu.

d. Implikasi dalam konseling
1. tujuan konseling dapat difokuskan pada pengoptimalan perkembanganklien
2. Proses konseling, dari segi perkembangan individu
3. teknik pemahaman individu oleh konselor
4. Interviu konseling menjadi pengolahan utama
5. Pengujian realitas tingkah laku

2. Citra Diri Klien
a. dimensi Citra diri
b. peranan diri
c. Perkembangan citra diri
d. implikasi dalam konseling

3. Kebutuhan Klien: Pemenuhannya dan Hubungannya dengan Citra Diri
a. Kategori Kebutuhan
1. Kebutuhan bertahan hidup
2. Kebutuhan fisik
3. Kebutuhan cinta dan seksKebutuhan status sukses
4. Kebutuhan kesehatan mental dan fisik
6. Kebutuhan kebebasan
7. Kebutuhan akan tantangan
8. Kebutuhan ketegasan kogniitf
9. Kebutuhan pengalaman yang beragam
b. Pemuas Kebutuhan dan Pengaruhnya terhadap Medan perseptual
c. Pemuasan kebutuhan dan toleransi
d. Implikasi dalam konseling

Bab V
Aspek Psikologis dalam Konseling:
Pribadi dan keterampilan Konselor
1. Konselor sebagaib Pribadi
Suatu proses yang unik tempat konselor menawarkan peluang tumbuh bagi konseling.
a. Kesadaran akan Diri dan Nilai-Nilai
b. Kesadaran akan pengalaman budaya
c. Kemampuan Menganalisis kemampuan Heplper sendiri
d. Kemampuan berlayan sebagai teladan dan pemimpin atau orang berpengaruh
e. Altrusime 9 berkoraban)
f. Penghayatam etik yang kuat
g. Tanggung jawab

2. Sikap dan Keterampilan Konselor
a.Sikap Dasar konselor
1. Penerima
2. Pemahaman
3. kesejatian dan keterbukaan

b. Keterampilan Dasar Konselor
1. Kompetensi intelektual
2. Kelincahan Karsa cipta
3. Pengembangan keakraban

3. Keefektifan Konselor
a. Faktor-faktor Pembeda Umum
1. Pengalaman
2. Tipe-tipe hubungan konseling
3. Faktor-faktor Nonintelektif

b. Ciri-ciri khusus Kemampuan Konselor Efektif
1. para helper yang efektif sangat terampil mendapatkan keterbukaan
2. Para helper yang efektif membangkitkan rasa percaya, kreadibilitas dan keyakinan dari orang-orang mereka bantu
3. Para helper yang efektif mampu menjangkau wawasan luas seperti halnya mereka mendapatkan kterbukaan
4. Para helper yang efektif berkomunikasi dengan hati-hati dan menghargai orang-orang yang mereka upayakan bantu
5.Para helper yang efektif mengakui dan menghargai diri mereka dan tidak menyalahgunakan orang-orang yang mereka coba bantu untuk memuaskan kebutuhan pribadi mereka sendiri
6. Para helper yang efektif mempunyai pengtahuan khusus dalam beberapa bidang kealihan yang mempunyai nilai bagi orang orang tertentu yang akan dibantu
7. Para helperyang efektif berusaha memahami bukannya menghakimi tingkah laku orang yang diupayakan bantu
8. Para helper yang efektif mampu bernalar secara sistematis dan berfikir dengan pola sistem
9.Para konselor yng efektif berpandangan mutakhir dan memiliki wawasan luas terhadap peristiwa yang berkenaan dengan manusia
10. Para helper yang efektif mampu mengidentifikasi pola tingkahlaku yang merusak diri dan membantu orang lain untuk berubah dari tingkah laku merusak diri kepola tingkah laku yang secara pribadi lebih memuskan
11. Para helper yang benar-benar efektif sangat terampil membantu orang-orang lain melibatkan diri dan merespon secara tidak defensif terhadap pertanyaan “ Siapakah saya?”

c. Ciri-ciri Khusus Perseptual Konseor yang baik
1. Para konselor yang baik lebih cenderung berpersepsi:
aDari kerangka acuan internal dari pada kerangka acuan eksternal
b. Kepada orang dari pada benda

2. Konselor yang baik akan mempersepsi orang lain sebagai;
a. mampu daripada takmampu
b. Patut percaya daripada sangsi
c. Peramah daripada tak acuh
d. berguna daripada sia-sia
e. Suka membantu daripada suka mengganggu
f. termtifasi secara internal daripada eksternal
3. para konselor yang bvaik mempersepsi diri sendiri sebagai;
a. Beridentifikasi pada orang daripada mengahadiri orang
b. Memadai daripada tidak berdaya
c.Berguna daripada sia-sia
Terpercaya daripada meragukan
4 Para konselor yang baik mempersepsi tujuan-tujuan mereka sebagai:
a. Membebsakan daripada mengendalikan
b. Altruistis daripada narsitstis
c. Memperhatikan makna yang luas daripada yang sempit
d. Membuka diri daripada menutupi diri
e. Melibat daripada menghindar
f. Berorientasi pada proses daripada berorentasi pada tujuan
d. Konselor yang tidak efektif : Pembedaannya dengan Konselor yang Intensional
Konselor yang intensional bersangkutan dengan kelincahan karsa cipta konselor untuk berbuat secara tept dalam anaeka kemungkinan perbuatan yang dapat dilakukan dalam konseling.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: