teologi pastoral


Nama : Anry Krismanto Nababan
NIM :07.2240
M. Kuliah :Teologi Biblika I
Dosen : Pdt. B L. Tobing, M.Th & Dr.Thomas B

1.Hubungan cerita Keluaran dari Mesir dengan penyataan sinai
2.Hubungan cerita Keluaran dari Mesir dengan penciptaan

Tuhan telah membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir dengan mengerjakan tanda-tanda yang berkuasa, dan telah membawanya menyebrangi Laut Kolsom/Teberau dengan cara yang ajaib ; itulah pokok puji-pujian dan dasar maupun inti kepecayaan umat israel sejak masa kelahirannya.
Pokok pujian dan kepercayaan bersama inilah inilah yang mula-mula mempersatukan angkatan orang-orang Israel waktu perjalanannya dipadang gurun, dan persekutuan suku-suku Israel yang telah mendiami tanah Kanaan.Segala pokok kepercayaan Israel lainnya didasarkan atas pokok “ Keluaran dari Mesir” ini.
Umat Israel merayakannya sebagai peristiwa yang ajaib, sebagai kejadian yang tidak dapat diterangkan. Bukan kekuatan orang-orang Israel, bukan pula kelemahan atau kebodohan orang Mesir, bahkan keadaan medan peperangan yang menguntungkan salah satu pihakpun tak dapat dianjurkan sebagai sebab dari kemenangan dan kekalahan dekat Laut Tebarau itu.
Allah membebaskan umatnya dengan mengalahkan Mesir,. Untuk membebaskan umatNya dari perbudakan, Allah memukul Firaun dengan segala alat negaranya karena kekerasan hari kemerdekaan. Ia membuat mereka menjadi tanda peringatan bagi Israel dan segala bangsa di bumi
1. Israel memuji Allah karena kemenangan-Nya atas Rahab, yakni Mesir yang menjadi lambang dan penyataan kuasa kegelapan dan kekacauan yang jahat.
2. Israel memuji Allah karena penghukumanNya yang adil atas kekerasan hati dan kecongkakan manusia
3. Israel mengaku kekerasan hatinya dan kecongkakannya sendiri, dan percaya bahwa bagi Mesir pun ada giliran untuk mendapat pengasihan Allah.
Berita-berita tertua tentang Keluaran dari Mesir membesarkan perbuatan Allah sebagai suatu kemenangan;.
Kitab Keluaran menerima namanya dengan mengingat kelima belas pasal pertama ( Kel 1:1-15:21). Kesaksian Perjanjian Lama mengenai penciptaan dunia berpusat pada kejadian 1-2, kesaksiannya mengenai pemilihan para bapa leluhur berpusat pada kumpulan Kejadiaan 12-50. Demikian juga dengan dengan pokok tentang Keluaran dari Mesir itu; hampir semua bahan cerita tentang pokok itu terkumpul dalam Keluaran 1-15
Sejarah penulisan dan pengumpulan Keluaran 1-15 yang berliku-liku itu tidak menyatakan suatu gejala yang amat penting, demi ketepatan pengetian cerita itu. Seluruh usaha pengumpulan itu tidak semata-mata dimaksudkan untuk memelihara hadits-hadits lama agar jangan sampai terlupakan, tetapi terlebih lagi untuk memenuhi suatu kebuuhan hidup bagi umat Israel, yakni Perayaan Paskah
Keluaran dari Mesir menjadi pokok puji-pujian umat Israel- baik pada masa raya Paskah maupun pada umumnya didalam kebaktiannya ( bnd Mzm 66:6; 136:10-15;114). Hal ini menjadi lebih terang lagi bila kita memperlihatkan peranan pokok ini didalam rumus-rumus kepercayaan umat itu ( bnd. hlm 9 *Ul 26:5-9 ; Ul 6:21-23* )
Pengakuan-pengakuan percaya atau kredo-kredo itu mempunyai bentuk yang serupa dengan corak nyanyian puji-pujian. Keluaran merupakan inti dan pangkal dari kesksian kitab-kitab Perjanjian Lama. Semua rumusan kredo, tanpa kecuali, memuat pokok ini.
Pokok-pokok tentang Keluaran dari Mesir itu mendapat tempat yang demikian penting, sebab justru Keluaran inilah yang meletakan dasar berdirinya umat Israel. Oleh kuasa perbuatan Tuhan inilah Israel sebagai umat Tuhan, Memang, disamping Keluaran ini ada juga lain-lain pokok kepercayaan, lain-lain perbuatan Allah yang dikatakan memainkan peranan yang sama. Dasar berdirinya umat Israel diletakkan juga oleh pemilihan para Bapa Leluhur,oleh penyataan Allah di Gunung Sinai, oleh pemberian tanah Kanaan, malah-menurut beberapa nas Perjanjian Lama yang agak jarang ( Ul. 32:10-12; Hos. 9:10; Yer. 31:2-3)- juga oleh pembimbingan Israel dipadang gurun. Penciptaan langit dan bumi pun secara tidak langsung ditunjukan pada kelahiran umat itu ( bnd hlm. 16-20)

Penjelasan perbandingan 16-20
“ Pada Mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”, demikian kalimat pertama dalam Kitab Kejadian, yakni kitab pertama dalam rentetan kitab Perjanjian lama.Semua bangsa kuno mengakui bahwa Allah tertinggi menciptakan langit dan bumi, sebagimana terlihat dalam cerita mula jadi masing-masing. Namun, setelah Israel mengalami penyertaan Tuhan mulai dari Mesir hingga Bait Suci di Yerusalem didirikan, barulah ia meluaskan pandangannya ke seluruh bumi dan mengakui bahwa Tuhan- bukan ilah pujaan bangsa-bangsa lain-yang menciptakan langit dan bumi. Boleh dikatakan pokok ini merupakan pelengkap: Allah yang mengikat perjanjian dengan umatNya adalah juga Pencipta. Ia menciptakan karena Ia hendak bersekutu dengan manusia dan memilih Abrahan dan keturunannya untuk menjadi berkat bagi segenap kaum dimuka bumi.
Kesan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa kebanyakan rumusan kredo yang terdapat dalam kitab-kitab Perjanjian Lama mulai dengan “ Keluaran dari Mesir” atau setidak-tidak dengan “ pemilihan para bapa leluhur”. Hanya Yeremia 32:17-23 dan Nehemia 9:6-31 serta Mazmur 135 dan 136 yang memasukan pokok penciptaan ke dalam rentetan perbuatan besar Allah .
Pokok penciptaan diangkat dari sudut penciptaan diangkat dari sudut pandang umat yang telah berhubungan mesra dengan Allah dalam perjanjian yang Ia ikrarkan. Berdasarkan sudut inilah pokok penciptaan dilihat sebagai penjelasan dan pelengkap dari pokok inti, yaitu penciptaan umat Israel itu sendir. Dengan kata lain, penciptaan bukan merupakan dasar umat memahami tema-tema kredo yang lain. Sebaliknya, penciptaan hendaknya dipahami dengan bersandar pada tindakan Allah terhadap umat pilihan-Nya.
Umat Israel memuji Tuhan yang menciptakan langit dan bumi atas prakarsaNya sendiri dengan maksud menjalin hubungan timbal balik dengan para makhlukNya.
Segala bangsa kuno mengenal Allah tertinggi sebagai Khalik alam semesta. Dengan memuji Tuhan sebagai Pencipta, maka pada satu segi dewa-dewi alam ditolak dan pada segi lain peran universal Tuhan diakui
Allah menciptakan demi menyelamatkan, orang percaya kepadaNya harus melawan setiap penyalahgunaan kuasa yang menindas makhluk lemah. Merekapun menolak dalil bahwa agama hanya berarti dalam hidup pribadi. Karena Allah memberkati seluruh ciptaanNya, upaya untuk mewujudkan nyatakan berkat itu di dalam masyarakat dan didalam tanggung jawab atas lingkungan diupayakan oleh orang-orang percaya bersama dengan semua orang yang rela bekerja sama.

Tak dapat disangkal, pokok Keluaran ini mempunyai semacam “priorita” atau keutamaan mutlak terhadap pokok-pokok lainnya. Kesaksian kitab-kitab Perjanjian lama tentang pokok-pokok itu sendikit banyak terpengaruh oleh kesaksian nya tentang Keluaran ini. Semuanya seakan-akan dikemukakan “sewajar”, “seirama”, dan “ setujuan” dengan yang terakhir tadi.
Kesaksian Perjanjian Lama tentang peristiwa Gunung Sinai dan padang gurun dan waktu pendudukan tanah Kanaan terpengaruh oleh kesaksiannya tentang Keluaran dari Mesir. Kitab-kitab Perjanjian Lama dengan sengaja “ menggantungkan” peristiwa-peristiwa itu pada peristiwa Keluaran yang dianggapnya sebagai perbuatan induk dari Allah.

Kesimpulan
1. Peristiwa Keluaran dari Mesir merupakan bentuk puji-pujian umat terhadap kebesaran Tuhan.
2. Peristiwa Keluaran dari Mesir merupakan awal mulanya pembentukan umat Israel
3. Keluaran dari Mesir merupakan credo tertua dalam kepercayaan Israel

One Response

  1. haruskah ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: